Thursday, December 06, 2007

mabuk saya

saya tak pernah menyukai bir. tanpa alkhohol sekalipun. jangankan meminumnya, mencium aromanya saja pasti saya sudah mual. begitu pun minuman beralkohol lain, yang nama-namanya asing di telinga, seperti smirnoff, jeam bim, atau masih banyak lagi yang saya tidak tahu bagaimana rasanya.

maka setiap kali teman-teman yang gemar meracik minuman mengajak, selalu saya tampik. saya lebih senang meminum teh botol. (wih, kalau tidak salah, sudah tiga bulan terakhir ini saya tak meminum air putih. gawat juga).

tapi malam ini saya gagal. ajakan itu tak bisa saya tepis. bergelas-gelas, saya tenggak. saya mabuk habis-habisan. tertawa tanpa sadar. mengoceh tanpa tahu apa yang saya bicarakan. tidak fokus. rasanya ganjil. ada perasaan yang belum pernah saya selami. seperti mengambang. kepala pening bukan main. muntah tak tertahankan. dan saya dibopong karena tak sanggup berjalan.

tapi kenapa sedih dan sakit itu tidak hilang? awal-awal memang begitu kata seorang teman. mungkin saya akan mencoba lagi nanti. dan kami sudah sepakat untuk menjadi lebih gila daripada malam ini. hati kecil saya tidak suka, tapi saya tidak tahu harus bebruat apa. sungguh, betapa memualkan alkohol-alkohol itu.

tapi saya cuma ingin mengusir sedih dan sakit.

ambivalent passive kah saya?
conforming yang pencemas?
compulsive yang tersesatkah saya?

adakah kalian yang bisa mencerabut luka yang tengah saya renangi?

2 comments:

@beradadisini said...

Saya sudah cukup mabuk dengan naik ke lantai entah berapa dan keluar memandangi bintang di langit malam. Rasanya seperti digulung dalam berton-ton ingatan yang menyakitkan; menyedihkan; sekaligus dirindukan...

in-glish said...

hehehe... pasti nggak mau lagi ya mabuk kayak gitu?