Thursday, May 03, 2007

gara-gara salat masuk bui

rochamim dan thoyib, dua lelaki di desa bugul kidul, pasuruan, jawa timur, dituduh sebagai penyebar ajaran sesat. selain kerap melakukan ritual di makam-makam tua, kedua orang ini juga belasan lainnya, menganggap salat itu tidak penting karena tak ada uang atau bayarannya.

warga setempat marah dan meluruk rumah tinggal rochamim, lelaki paruh baya yang dianggap sebagai pemimpin spiritual mereka. memang tidak ada perusakan, tapi amarah warga berbuntut penolakan mereka kembali ke kampung.

kedua orang itu, kini tinggal di kantor polres pasuruan. rochamim berstatus saksi dalam perkara penodaan agama. sedangkan thoyib yang dianggap sebagai pengikut dikenai status sebagai tersangka. polisi berdalih tak menemukan bukti penyebaran ajaran sesat pada diri rochamim. sedangkan pada thoyib polisi mendapatkan bukti bahwa dialah yang pertama kali mengeluarkan pernyataan bahwa salat tidak penting karena tak dibayar, sehingga tak perlu dilakukan.

yang jadi kebingungan saya sekarang adalah, apabila cerita ini diberi judul "gara-gara salat masuk bui", apa salah? terjadi perbedaan pendapat. ada yang beranggapan judul itu terlalu sensitif karena seolah karena berbuat ibadah orang masuk bui. sedangkan saya sendiri berpendapat, persoalannya tidak sesederhana itu. maksud salat di situ tentu tak bermakna sederhana hanya karena urusan salat orang masuk penjara, sebab pasti ada sesuatu di balik salat itu sendiri.

saya teguh memegang pendapat terakhir, karena saya yakin masyarakat tidak bodoh, tidak akan mudah menyimpulkan begitu saja bahwa gara-gara perkara sembahyang orang masuk penjara. tapi yang mempunyai pendapat pertama berkeras, masyarakat kita tak semuanya paham dan bisa menalar jauh. sekolompok masyarakat kita masih banyak yang bodoh, dan sulit menerima hal semacam itu. ah, saya kok tetap tidak percaya. apa iya masyarakat indonesia ini begitu bodoh menelaah kata dan persoalan?

saya pikir, masyarakat kita bukan bodoh, tapi tidak dipercaya untuk menjadi pintar...

saya betul-betul kecewa...

1 comments:

Anonymous said...

kalo hanya membaca judul sama keterangan berita yang secuil kemungkinan masyarakat panas.

tapi jika si pembuat judul menjelaskan isi dengan berimbang... saya rasa tak masalah coy.

pilih yang mana... masyarakat yang kian speechless dengan keinstanannya atau bersama sama belajar untuk cerdas.

ilalangsenja