Thursday, March 20, 2008

!#$%^#$%

heran, bodoh kok gak ilang-ilang. pertama kali wawancara ini orang 13 tahun lalu, lima menit pertama langsung terasa, emang cetek isinya. nah, 13 tahun berlalu, orang ini masih aja dangkal. baca deh: si goblok!.

"hm, gini ya ibu gendut. terserah lo kali mo ga lulus S1 atau S berapa kek. dan terserah lo juga deh mo nyalonin jadi presiden atau gak (gue sih ga bakal milih lo atau siapa pun kecuali iwan fals nyalonin). tapi maksud gue tuh, ga usahlah bawa-bawa contoh Rasul yang gak S1 bisa mimpin umat begitu banyak. ya bedalah! biar lo bilang ga bermaksud nyama-nyamain capres indo yang bersyarat S1 dengan Rasul yang ga lulus S1, kalimat lo itu namanya retorika. ngerti retorika kan bu ndut? kalimat yang tak perlu jawaban. kalimat yang maknanya ga pernah gamblang bisa diartikan harafiah."

"nah, bu ndut ndut ndut, kualitas ente, dan kita-kita manusia ini juga, jelas bedalah sama kualitas Rasul sebagai manusia. waktu kecil, Rasul, khususnya nabi Muhammad SAW, dadanya dibelah lalu dicuci hatinya oleh dua malaikat! Rasul-rasul itu pilihan Allah SWT, sedangkan ente, juga kite-kite nih, ga tau deh pilihan siape. tolong deh, jangan gila doooong..."

sumpah, capek gue. bikin ngantuk ilang aja. punya hobi kok bodoh. sudah bodoh mau jadi presiden... dasar goblok! kesel kan jadinya nih. ah!

Wednesday, March 12, 2008

padamu saja aku jatuh

padamu bulan
aku terpesona
sampai tepian
yang hanya Dia
yang bisa melintasinya

padamu perempuan
aku jatuh cinta
sampai batas
yang hanya Dia
yang bisa mengukurnya

padamu rindu
izinkan aku bahagia
sampai jauh
yang hanya Dia
yang bisa merasakannya

Tuesday, March 04, 2008

Andai Fahri dan Aisha Katolik

apa jadinya jika fahri dan aisha bukanlah muslim, tetapi katolik, dan maria yang muslim, bukan kristen koptik? pasti ending film ayat-ayat cinta yang sampai sekarang masih disesaki penonton itu, akan berakhir lain.

dalam film, maria digambarkan sebagai gadis mesir penganut kristen koptik. perbedaan kristen koptik dan katolik terletak pada hirarki gerejawi. penganut koptik tidak mengakui keuskupan roma sebagai pimpinan tertinggi gereja. keuskupan koptik terpusat di alexandria, mesir, bukan di vatikan.

meski memiliki perbedaan pada hirarki gerejawi, baik koptik atau katolik, sama-sama menolak poligami. menikah tetap harus dengan satu orang dan tidak ada perceraian sebab hanya kematian yang bisa memisahkan. begitulah katolik dan koptik memegang keyakinan tentang pernikahan.

tapi, sekali lagi, apa jadinya jika fahri dan aisha bukanlah muslim, tetapi katolik, dan maria yang muslim, bukan kristen koptik?

ending film ayat-ayat cinta pasti akan berakhir lain.

bisa jadi maria akan tetap sakit dan tidak bangun-bangun, tanpa sempat dinikahi fahri. bisa jadi pula, meski katakanlah maria harus mati karena tidak bisa sembuh dari sakit--obatnya untuk sembuh adalah menikah dengan fahri--itu sudah menjadi risiko maria yang jatuh cinta sampai sekarat terhadap fahri.

tapi, di film fahri adalah seorang muslim. sebagai penganut muslim, fahri diizinkan berpoligami. maka maria pun dinikahkan. dan maria pun sembuh dari sakit parahnya. andai fahri katolik, tentu akan sulit sekali baginya menolong menyembuhkan maria dari sakit berkepanjangan sampai koma begitu.

selepas menyaksikan ayat-ayat cinta--saya nonton film ini dua kali, karena begitu terpesona dengan mata rianti cartwhright di balik cadar--saya teringat obrolan dengan seorang pastor beberapa waktu silam, jauh sebelum ayat-ayat cinta dirilis.

entah bagaimana, obrolan kami membahas soal pernikahan. saya ingat, ketika itu dia bilang, kini banyak orang-orang terkenal tanpa malu-malu memiliki istri lebih dari satu. tanpa malu-malu menikah lagi dan menikah lagi. sampai bisa punya istri empat. katolik tidak begitu. bagi umat katolik, pernikahan cuma sekali dan hanya kematian yang bisa memisahkannya. (saat itu saya berpikir, bagaimana kalau suami atau istrinya kerap melakukan tindak kekerasan atau selingkuh parah, apa masih mau hidup serumah tidak bercerai? yang benar saja).

tapi saya tidak mau terjebak pada perdebatan. perbedaan sudut pandang dan prinsip serta keyakinan akan membuat debat itu tetap mentah. jadi saya biarkan saja sang pastor itu nyerocos dan menggugat paham poligami.

meski diizinkan dalam islam, poligami tidaklah mudah. "adil terhadap satu istri saja itu susah, apalagi dua," sindiran manis ini terjadi dalam dialog ayat-ayat cinta. sindiran yang dicetuskan juga oleh umat islam, syaiful, teman fahri.

banyak umat muslim percaya, poligami meski dibolehkan, tapi bukanlah sebuah keharusan dan wajib dijalankan. syaratnya berat. dan musti dengan izin istri pertama. tidak bisa diam-diam. bila istri pertama tidak mau, ya pernikahan lanjutan itu tidak afdol.

dalam film, aisha mengizinkan fahri menikahi maria, agar maria sembuh dari sakitnya. perempuan yang jatuh cinta habis-habisan memang bisa berdampak aneh-aneh kalau tak terwujud keinginannya. dan maria bahaya, jika ia tak dinikahi fahri, ia bisa mati sia-sia membawa cintanya.

dan aisha pun mengizinkan, meski hatinya perih dan cemburu membakar dadanya. fahri menikahi maria, dan seketika, alam bawah sadarnya membangunkan ia dari koma panjang.

sebuah film yang dahsyat, bagaimana poligami menjadi solusi yang indah, juga digambarkan bahwa poligami tidaklah mudah. jangan dikira setiap muslim mau berpoligami! hanung bramantyo yang penuh "darah" memperjuangkan film ini, luar biasa menyutradarainya.

banyak yang bilang film ini keluar dari novelnya yang dahsyat. tidak ada visual maria tak bisa menembus pintu surga karena cuma umat nabi Muhammad yang bisa ke surga dan kuncinya adalah syahadat. tidak ada visual maria--yang hafal surat maryam--bertemu dengan siti maryam atau di katolik dikenal sebagai bunda maria--ibunda nabi isa. biar saja. pertimbangan sara mungkin menjadi alasan. selalu ada perbedaan antara teks dan visual. teks membuat imajinasi bebas melayang sedangkan visual kita tidak bisa diberi pilihan menghayal selain menyaksikan dalam sebuah layar.

setelah menyaksikan ayat-ayat cinta, yang sepertinya saya ingin lihat lagi, saya cuma membayangkan, andai fahri dan aisha katolik, pasti maria akan menderita sekali. mati membawa cintanya sampai mati. cinta yang agungkah? saya pikir, menyelamatkan nyawa manusia, meski dengan jalan menikahinya, lebih penting ketimbang hal lainnya. dengan persetujuan istri pertama tentunya.

Allahu Akbar!