Friday, July 29, 2005

kepada putri rampen (17)

jadi begitulah perempuanku. ternyata semua hanya isu. sebetulnya tak bisa dikatakan isu juga, karena gelagat tergantikannya karni memang ada. syukurlah, perkembangan terakhir, karni ilyas tetap dipertahankan sebagai pemimpin redaksi liputan 6. sebuah keputusan tepat, karena memang aku tak melihat ada orang yang pantas memimpin liputan 6 untuk saat ini selain karni. desas-desus tentang permainan sby pun agak sulit terbukti, karena toh karni tetap memimpin. semoga saja pemerintahan ini terus menerus mencoba menjadi baik, meski di sana sini masih selalu ada yang tak beres.

sudahlah. dinamika kantor dan negara memang seperti itu. terlalu melelahkan membahas kedua hal itu di saat kita sedang merindu seperti ini. sekarang mari kita bicara saja tentang dirimu, tentang aku, tentang kita yang begitu berdebar menanti senja jatuh di januari yang basah nanti... ah, jangan-jangan cuma aku yang meraskan debar itu perempuanku? aku cuma bisa berharap, semoga saja tidak... :)

perempuanku yang baik...
kemana saja kamu seharian kemarin? masih membedah cadaver? sepertinya kamu begitu menikmati sekali praktik membedah mayat. wah, kalau aku yang begitu, mungkin aku bakal tak makan setahun. aku tak pernah berani melihat mayat. dalam beberapa liputan pun, kalau tak terpaksa-terpaksa sekali, aku selalu menghindari kamar jenazah. rumah sakit cipto adalah rumah sakit yang paling sering didatangi para reporter kriminal. selalu saja ada mayat baru di sana. entah itu gelandangan yang mati kelaparan, orang tenggelam, kecelakaan lalu lintas, atau mayat-mayat dari kasus-kasus mengerikan seperti pembunuhan atau bunuh diri. yang aku tahu, mayat baru tak seberapa bau, tapi mayat-mayat yang sudah disimpan dalam pendingin, waduh, aku pasti akan mual. kalau sudah begini, kameramenkulah yang kasihan. dia musti mengambil gambar dengan hidung yang sulit ditutup. tangan kanan memegang bodi kamera, tangan kiri memainkan fokus atau tele. aku? di luar saja minum teh botol atau pura-pura mencari data di ruang administrasi. hehehe... :)

aku pernah sangat sedih sekali sewaktu ada bayi baru lahir yang menjadi korban kekejian ibunya sendiri. bayi yangbelum bernama itu berjenis kelamin perempuan. kulitnya bersih putih. cantik dan bibirnya merah sekali. tapi matanya sudah rapat. dia tewas dicekik perempuan yang melahirkannya, lantaran malu kehamilannya terjadi di luar nikah. aku tak pernah paham rasa malu bisa membuat orang menjadi tega dengan cara seperti itu. perempuan itu pasti akan sangat berdosa, tapi bayi itu tersenyum perempuanku. surga di depannya mungkin lebih indah ketimbang hidup bersama ibu yang tak menginginkan kelahirannya. hidup rupanya memang penuh dengan kekejian-kekejian yang tak masuk akal... dan aku, mungkin juga engkau perempuanku, berada di sekitarnya dengan perasaan yang begitu sunyi...

kesunyian dan marah itu pula yang hinggap di benak aku ketika tahu bahwa ada sepasang suami istri muda mesti pontang panting mencari rumah sakit.

muhammad zulkifri. putra pertama pasangan husein-lailasari ini lahir prematur pada 13 juli silam. dua hari setelah dilahirkan muncul gejala sakit kuning. husein, yang bekerja sebagai kuli bangunan, bersama istinya, nekat membawa zul ke rumah sakit meski di sakunya duit tak banyak (hanya 250 ribu rupiah pinjaman saudara). uang itulah yang dipakainya untuk naik mikroket, bus, atau bajaj keliling jakarta mencari rumah sakit.

di rumah sakit pertama, mereka ditolak. rumah sakit kedua, ditolak. rumah sakit ketiga, di tolak. sampai enam rumah sakit dan memakan waktu keliling jakarta sampai sebelas jam, mereka tetap tak diperkenankan. di sisi lain, kondisi zul kian parah. keenam rumah sakit itu adalah rumah sakit umum daerah budhi asih, rumah sakit cipto mangunkusumo, rumah sakit tni angkatan laut mintohardjo, dan rumah sakit pusat tni angkatan darat gatot soebroto. dua lainnya, yaitu rumah sakit harapan kita, dan rumah sakit universitas kristen indonesia. betapa lukanya hati kedua pasangan itu. bayangkanlah air mukanya saat pihak rumah sakit menolak mereka. bayangkanlah tatapan matanya. bayangkanlah lenguhan napas lelahnya turun naik kendaraan umum... bayangkanlah teriakan batinnya... "kenapa kok rumah sakit tidak bisa menerima meskipun kami tidak punya uang. kenapa sih begitu?" husein, ayah zulkifri, terbata bertanya. ah!

beruntunglah perempuanku. sekali lagi Tuhan tak pernah tega membiarkan anak-anak menderita berkepanjangan. tak seperti enam rumah sakit itu, rumah sakit harapan bunda di jakarta timur mau menerima. seorang dokter perempuan, aku lupa namanya, merasa iba melihat nasib orang kecil itu. zulkifri pun segera dirawat dalam inkubator. kini kondisi zulfikri membaik. kadar bilirubinnya sudah turun. ada pun detak napas bayi berusia 14 hari itu mencapai 30 kali per menit. seiring dengan itu berat badannya juga naik dari 1.400 gram menjadi 1.500 gram. syukurlah.

enam rumah sakit yang menolak pasien diberi kartu kuning oleh pemerintah. memang bukan sanksi hukum, tapi seperti ada semacam makian moral yang terlontar ketika melihat menteri kesehatan menyindir sikap rumah sakit-rumah sakit itu kepada direktur-direkturnya. di sini amarahku agak terbayarkan. memang rumah sakit bukanlah tempat para dewa yang fasilitasnya datang dari langit begitu saja, tapi kenapa pula orang kecil selalu tak dipercaya bahwa mereka juga punya harga diri untuk membayar segala macam biaya pengobatan? entah bagaimana caranya, utang pinjam pasti mereka akan lakukan demi kesehatan, apalagi demi anak tercinta.

semoga saja kasus ini ada hikmahnya, karena sangat besar kemungkinan, ke depan bakal terulang lagi kasus-kasus seperti ini. orang kecil selalu sulit dipercaya mampu mebayar pengobatan. mungkin karena orang kecil datang ke rumah sakit dengan keringat bercucuran. mungkin juga karena mereka tak punya kartu kredit. bisa juga karena mereka terlihat kumal dan tak berkalung emas atau bergelang mutiara seperti nyonya kaya dalam lagu ambulans yang dilantunkan iwan fals. aku tak tahu. yang aku tahu, kota ini tak pernah serius untuk menghayati kebersamaan... sebuah kota yang muram dengan jiwa-jiwa yang rapuh dan ringkih... betapa tak nyamannya hidup begitu...

perempuanku yang baik...
dua naskah yang aku liput di medan sudah selesai. meski agak tersendat karena rasa malas yang begitu kuat menyerang, juga dimarahi produserku yang cerewet, akhirnya selesai juga tugasku. kakak yang membunuh adiknya akan tayang minggu ini. sedangkan yang bapak membunuh anak tirinya, akan disiarkan pekan depan. sementara ini, aku tengah meriset data tentang bocah-bocah perempuan yang menjadi pelacur. mereka masih muda-muda, di bawah 17 tahun. kisaran usia sekolah menengah sampai atas. kabarnya, jumlah pelacur cilik ini meningkat, karena seperti alasan-alasan klise penjualan diri lain, faktor ekonomi. tapi mereka masih anak-anak...

yang jadi persoalan adalah, mereka tak pernah sadar bahwa undang-undang perlindungan anak amat menentang yang mereka lakukan. suatu saat mereka bisa saja ditangkap, meski upaya ke arah sana belum terlihat nyata. aparat trantib sepertinya lebih senang menjadi anjing-anjing pemerintah kota: menggusur pedagang kaki lima sambil memeras jatah lapak atau areal. kota yang kutinggali tak pernah bisa membuat aku selesai bertanya-tanya. kenapa ini selalu begini dan itu selalu begitu... betapa memusingkan.

dan untung saja, percayalah ini bukan kegombalan, di tengah kegelisahan itu, aku tak lagi sendirian. kehadiranmu perempuanku, sedikit banyak membuat aku selalu bisa tersenyum dan yakin bahwa keindahan sesungguhnya belum beranjak pergi dari hidupku... terima kasih Tuhan karena pada akhirnya Engkau menemukan aku dengan perempuanku...

ada yang harus aku kerjakan... jaga dirimu baik-baik. telat makanmu jangan sampai membuatmu sakit. belajarmu pasti sangat keras ya? awas, jangan terlalu lelah, karena aku cemas dengan migrenmu. kali aku tak ingin bilang jangan nakal-nakal, karena aku percaya hatimu akan selalu sulit untuk berbuat yang merugikan diri dan jiwa kamu sendiri... percaya itu indah perempuanku, ketimbang harus berburuk sangka yang hanya membuat batin kita terasa begitu kering...

love u so much, lelakimu yang selalu merindu...

6 comments:

tinneke said...

nyam nyam nyam
jadi laper :)

me said...

hehehe tina! menurut tina gimana?!

anak kecil said...

ohhh so romantic :-)

me said...

romanticnya di mana anya?

anak kecil said...

romantisnya itu mas gilank,
gambar laki2 yang lagi pipis...
di remang2 malam sambil menemani lelaki dewasa menulis blog...

me said...

huehuehuehuue... keren ya template barunya?